Selasa, 01 Mei 2012

Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian


A.    Gigi Tiruan Sebagian (GTS)
Dalam melakukan pembuatan Gigi Tiruan Sebagian (GTS), kita dituntut untuk menciptakan suatu  gigi tiruan yang sesuai dengan keadaan gigi asli agar tidak terjadi perubahan estetik maupun fungsi bicara serta dapat dipakai untuk mengunyah makanan.

B.     Membuat Model Rahang
Untuk mendapatkan model rahang yang baik pertama-tama kita lakukan :

1.      Membuat cetakan rahang atau model negative
Cetakan rahang adalah bentuk negative dari seluruh jaringan pendukung geligi tiruan. Setelah dicor maka akan didapatkan bentuk positif dari rahang yang lazim disebut model rahang.
2.      Membuat Model Kerja
Sebaiknya sebelum dicor dengan stone / gips dibuat dinding dari lembaran malam sekeliling cetakan untukmengamankan bentuk tepi cetakan yang disebut boxing. maksud dari boxing ialah agar bentuk / batas tepi tetap dipertahankan. Adapun tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Aduk dental stone  yang dicampurkan dengan air (pada beberapa referensi disebutkan perbandingan bubuk dan air 3 :1, dan beberapa juga menyebutkan 4 : 1)
2.      Aplikasikan stone  ke dalam cetakan sambil digetar-getarkan. Karena bagian alginate yang tidak tertopang sangat mudah terdistorsi, maka getaran yang digunakan untukmenempatakan cetakan pada massa stone  harus dilakukan dengan hati-hati.
3.      Biarkan stone  mengeras selama 1 jam, selama rentang waktu tersebut cetakan hasil ditutupi dengan kapas basah. Cetakan jangan dibiarkan tetap pada model lebih dari 1 jam.
4.      Rendam model dan hasil cetakan dalam air panas selama 5-6 menit untuk melunakkan bahan cetak, agar model kerja dan bahan cetak terpisah.
5.      Model dirapikan, lakukan hal ini dengan hati-hati agar batas sulkus labiobukal tidak hilang.
6.      Seyogyanya model digunakan setelah 24 jam karena pada saat itu stone telah mengeras sepenuhnya.


C.    Pembuatan Klamer

Cengkeram atau klamer adalah bagian dari gigi tiruan yang terbuat dari logam tahan karat yang memeluk gigi dan berfungsi sebagai retensi dari gigi yang masih ada.
Cengkeram merupakan penahan langsung ekstra koronal dan berfungsi menahan, mendukung dan mestabilkan geligi tiruan sebgian lepasan.
Komponen cengkram terbagi atas 2 yaitu :
1.      Komponen aktif, berperan pada bidang ortodonti contohnya piranti ortodonsi cekat
2.      Komponen pasif , berperan pada bidang prostodonsi contohnya gigi tiruan sebagian lepasan, ataupun piranti ortodonsi lepasan.

Secara structural cengkram terbagi dari bagian – bagian        :
1.      Badan cengkram (body) terletak diantara lengan dan sandaran oklusal ( oklusal rest)
2.      Lengan cengkram (arm) terdiri dari bahu dan terminal
3.      Bahu cengkram (soldier) bagian yang berada di garis survai ,  biasanya tegar
4.      Ujung lengan (terminal) bagian ujung lengan cengkram
5.      Sandaran, bagian yang bersandar pada permukaan oklusal atau insisal gigi penahan.
6.       konetor minor bagian yang menyatukan lengan cengkram dengan kerangkalogam geligi tiruan.

Lengan Retentif
Lengan ini dibuat sedimikian rupa sehingga bagian 1/3 terminalnya fleksibel dab terletak dibawah garis survey , bagian 1/3 tengah semi fleksibel dan bagian pangkalnya tegar. Fungsi utama lengan retentive :
1.      Melawan pergerakan geligi tiruan kea rah vertical atau oklusal dan ini diperoleh melalui uung lengan yang berada di bawah garis survai
2.      Menetralisasi gaya yang akan memutar atau memiringkan gigi penyangga
3.      Stabilisasi protesa dengan mengurangi pergerakan horizontal

Lengan Pengimbang
Lengan ini biasanya ditemopatkan pada daerah bukan gerong atas garis survai serta pada permukaan berlawanan dengan lengan retentive. Lengan ini akan berfungsi dengan baik bila semua bagiannya tegar. Fungsinya :
1.      Pengimbang atau stabilisasi terhadap pergerakan horizontak atau gaya yang ditibulkan lengan retentive pada saat fungsi atau gaya ortodontik yang timbul.
2.      Membantu fungsi penahanan tak langsung apabila ditempatkan anterior atau posterior dari garis fulcrum
3.      Membantu retensi walaupun amat terbatas karena adanya friksi lengan cengkeram dengan gigi
4.      Membantu dukungan protesa karena ada bagian yang terletak diatas garis survai

Sandaran Oklusal
Bagian ini harus ditempatkan pada kedudukannya ( rest seat atau recess) yang memang dipreparasi untuk itu .



Konektor Minor
Bagian ini menyatukan badan danlengan cengkeram dengan kerangka logam geligi tiruan.

Secara garis besar dikenal dua kelompok cengkeram kawat , yaitu cengkeram oklusal dan cengkeram gingival yang masing masing terdiri lagi dari beberapa bentuk. Adapun kelompok cengkeram berdasarkan jumlah jari :
1.      Cengkeram 1 jari
2.      Cengkeram 2 jari
3.      Cengkeram 3 jari
Adapun Cengkeram berdasar bentuk yaitu    :
1.      Klamer Jackson (O)
2.      Klamer Half Jackson (C)
3.      Klamer G
4.      Klamer T
5.      Klamer J
6.      Klamer Continues
7.      Klamer Half Continues
8.      Klamer South Hand
9.      Klamer Duizing
10.  Klamer Adam

Cara pembuatan klamer adalah           :
§  Tangan kanan memegang tang dan tangan kiri memegang klamer,
Keuntungan pemakaian cengkram kawat yaitu          :
1.      Lentur sehingga mengurangi daya torsi pada gigi penyangga.
2.      Retensinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan
3.      Cengkeram dapat dibuat dengan dia,eter lebih kecil tanpa resiko mudah patah yang member efek estetik lebih baik
4.      Penutupan permukaan gigi lebih minim disbanding dengan cengkeram tuang .
5.      Indikasi pemakaian lengan retentive cenkeram kawat lebih luas
6.      Teknik pembuatan lebih mudah
Kerugian menggunakan cengkeram kawat     :
1.      Mudah terjadi distorsi
2.      Mudah patah bila manipulasi pembuatannya kurang hati-hati sehingga banyak bekas tang pada permukaan kawat.
3.      Kelenturan dan tidak dipreparasinya sandaran oklusal kurang member dukungan yang memuaskan , sehingga gelgi tiruan seolah olah menjadi protesa dukunga jaringan
4.      Lengan kawat yanh lentur kurang atau tak mampu menahan gaya horizontal atau lateral.



D.    Pembuatan Basis Gigi Tiruan Sebagian

Basis gigi tiruan dalam kamus kedokteran gigi diartikan sebagai bagian protesa lepasan yang berkontak dengan jaringan dan merupakan tempat melekatnya gigi tiruannya.
Sebelum membuat basis yang terbentuk dari resin akrilik, terlebih dahulu di buat basis dari modeling wax/ abseplate wax yang akan digantikan oleh resin akrilik.

E.     Flasking

Flasking ialah suatu proses penanaman model dan “trial denture” malam dalam suatu flasfk/cuvet untuk membuat sectional mold. Berikut prosedur kerja flasking :
1.      Pilih flask  yang ukurannya sesuai dengan model, kemudian letakkan model dalam flask bagian bawah untuk memastikan bahwa flasknya cukup.
2.      Sebelum flasking ulasilah seluruh bagian dalam flask dengan lapisan vaselin tipis dan plug  bagian bawah flask diletakkan.
3.      Bagian tepi/dasar model dikuas dengan separating medium (vaselin/ air sabun).
4.      Aduklah adonan gips, kemudian letakkan di flask  bagian bawah lalu model ditanam dalm flask tersebut, setelah gips agak mengeras dirapikan.
5.      Setelah gips mengeras, bagian gips dicat dengan vaselin/ air sabun.
6.      Buatlah adonan stone dan kuaskan pada gigi-gigi dan malam geligi tiruan sambil digetarkan untuk mencegah terjadinya gelembung-gelembung udara. Pasang flask bagian atas tanpa tutup, lalu isikan stone kedalam flask sampai batas permukaan oklusal gigi-gigi.
7.      Setelah stone mengeras, buatlah adonan stone kedua dan tuangkan kedalam flask sampai penuh lalu flask ditutup dan ditaruh di bawah press (bagian-bagian flask kontak antar metal).
Cara flasking ada 2, yaitu:
a.       Pulling the casting ialah seperti cara di atas: dimana setelah boiling out, gigi-gigi akan ikut pada flask bagian atas. keuntungannya adalah memulaskan separating medium dan packingnya mudah, karena seluruh mold terlihat.
b.      Holding the casting: permukaan labial gigi-gigi ditutup stone/gips sehingga setelah boiling out akan terlihat seperti gua kecil. Pada waktu packing adonan akrilik harus melewaqti bagian bawah gigi untuk mencapai daerah sayap, yang disebut packing through).

F.     Boiling Out

Setelah flasking dilakukan, mold harus betul-betul keras paling tidak kurang lebih 1 jam sebelum bagian kuvet dipisahkan, dan malam dibuang. Kuvet ditaruh pada dalam air yang mendidih dengan suhu 130oF, selama 15 menit untuk melunakkan malam, dan memisahkan kuvet. Setelah pemisahan malam, bagian mold dicuci dengan air panas hingga tidak terdapat lagi sisa residu.
      Mold yang telah dicuci ditinggalkan untuk pendinginan selama 10 menit. Panas membantu mempercepat penetrasi dalam pemisahan dental plaster dan mempercepat pengeringan. Jika separator tidak sengaja menutupi bagian denture gigi, maka material yang terkontaminasi dapat dihilangkan menggunakan sikat atau alat yang lain. Setelah pemisahan kuvet telah mengering dan kuvet telah mengering dengan suhu yang sesuai dengan suhu kamar, maka mold siap untuk pembuatan resin akrilik.

G.    Packing Acrylic

Packing acrylic adalah proses mencampur monomer dan polimer resin akrilik. Yang mempunyai dua metode yaitu:
a.       Dry method ialah cara mencampur monomer dan polimer langsung didalam mold.
b.      Wet method ialah cara mencampur monomer dan polimer di luar mold dan bila sudah mencapai dough stage baru dimasukkan ke dalam mold.
Resin akrilik adalah suatu polimer yang berbentuk bubuk dan monomer yang berbentuk cair. Penggunaannya adalah dengan mencampur kedua kemasan tersebut sampai didapatkan massa yang plastis agar dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.
Nama acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau tajam. Bahan ini berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehida.
Macam-macam bahan akrilik adalah:
1.      Bahan akrilik heat cured
2.      Bahan akrilik self cured
3.      Bahan akrilik light cured


Komposisi dari bahan polimerisasi:
1.      Powder: polimer, polimetil metakrilat baik serbuk yang diperoleh dari polimerisasi metal metakrilat dalam air maupun partikel yang tidak teratur bentukannya yang diperoleh dengan cara menggerinda batangan polimer.
2.      Ciran: monomer yaitu metil metakrilat.
Stabiliser sekitar 0,006% hydroquinone untuk mencegah berlangsungnya polimerisasi selama penyimpanan.
Initiator peroksida berupa 0,2-0,5% benzoyl peroksida
Pigmen, sekitar 1% tercampur dalam partikel polimer.
Proses pencampuran monomer dan polimer mengalami 6 stadium:
1.      Wet sand/sandy stage: adoan seperti pasir
2.      Puddled sand: adonan seperti lumpur basah
3.      Stringy/sticky stage: adonan apabila disentuh dengan jari/alat bersifat lekat, apabila ditarik membentuk serat. Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas meresap ke dalam polimer.
4.      Dough/packing stage: adonan bersifat plastis. Pada tahap ini sifat lekat hilang dan adonan mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang kita inginkan.
5.      Rubbery stage: kenyal seperti karet. Pada tahap ini telah banyak monomer yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang kasar.
6.      Rigid stage: kaku dan keras. Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan getas pada permukaannya, sedang keadaan dibagian dalam adukan masih kenyal.




1.      Dua metode flasking yaitu:
a.       Holding the casting:
1)      Polimer dicampurkan kedalam monomer dalam mixing jar, lalu aduk perlahan-lahan sebentar,
2)      Lalu mixig jar ditutup rapat-rapat, tunggu sampai akrilik mencapai dough stage,
3)      Ambil sedikit akrlik, lalu tekankan perlahan-lahan masuk kedalam sayap, hatu-hati gigi jangan sampai lepas, dengan jari yang dibungkus kertas selopan.
4)      Sisa adonan diletakkan didalam mold lalu ratakan kedalam tepi, tutup dengan kertas selopan yang demek tak berair lalu pasang flask atas dengan tutupnya, kemudian press,
5)      Pekerjaan selanjutnya sama.
b.      Pulling the casting, dalam hal ini gigi berada di flask bagian atas sehingga meletakkan adonan akrilik agak berbeda. Adonan akrilik dibagi 2, sebagian besar diletakkan pada mold di flask bawah dan sisanya diletakkan di atas gigi-gigi yang berada di flask atas atau flask ditutup dengan diberi kertas selopan diantaranya, lalu di press. Pekerjaan selanjutnya sama.

2.      Prosedur kerja packing:
a.       Pencampuran resin akrilik. tuang monomer kedalam mixing jar porselen yang bersih dan masukkan polimer sampai semua cairan terserap dalam bubuk (polimer:monomer, 3:1),
b.      Aduk campuran dengan spatula stainless steal sampai monomer dan polimer tercampur dengan baik,
c.       Pasang tutup mixing jar untuk mencegah menguapnya monomer saat polimerisasi dan diamkan selama waktu yang dianjurkan pabrik,
d.      Jar dibuka dan bahan di tes dengan spatula, jika sudah lunak dan tidak lengket (dough stage), adonan siap dimasukkan kedalam mold,
e.       Packing resin akrilik yang sudah dough stage kedalam mold dengan jari telunjuk yang terbungkus kertas selopan. Adonan dipacking satu arah untuk menghindari terjebaknya hawa udara antar resin akrilik dan mold,
f.       Letakkan kertas selopan diatas resin akrilik, dan pasang kuvet antagonis.
g.      Press dan buang kelebihan sebanyak 2 kali, lepas kertas selopan, kemudian press dan pasang baut.

H.    Curing

Proses curing adalah polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan polimernya bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya.
Polimerisasi ada 2 cara yaitu,
1.      Secara thermis yang disebut heat curing
2.      Secara khemis (zat kimianya sudah ditambah dengan monomer) yang disebut dengan cold/self curing.
Pemberian panas dapat secara :
1.      Dry heat : dipanaskan dengan udara kering
2.      Vapour heat : dipanaskan dengan uap panas
3.      Water heat : dipanaskan dengan air panas yang biasa digunakan di laboratorium
Pemberian panas ini harus teratur karena reaksi kimia antara monomer dan polimer itu sendiri bersifat exsothermis. Bila polimerisasi telah dimulai maka temperature resin akrilik akan jauh lebih tinggi dari airnya dan monomernya akan mendidih pada temperature 1000C. Oleh karena itu, pada tahap permulaan polimerisasi, temperature air harus dijaga jangan terlalu tinggi. Dengan demikian panas yang timbul dari reaksi polimerisasi dapat dialihkan ke bahan investingnya, dan pemanasan yang berlebihan sehingga monomer mendidih akan mengakibatkan terjadinya porositas pada hasil curing. Porositas dapat juga disebabkan oleh mold yang kurang terisi atau selama curing kurang di press sehingga terjadi shrinkage porosity.
Komposit pertama yang dikeraskan oleh proses polimerisasi teraktivasi kimia, kadang kadang disebut sebagai cold curing. Cold curing diawali dengan pengadukan kedua pasta. Selama proses pengadukan, hampir tidak mungkin mencegah masuknya gelembung udara kedalam adukan. Gelembung udara ini mengandng oksigen yang menyebabkan penghambatan oksigen selama polimerisasi. Masalah lain dengan cold curing adalah bahwa operator tidak memiliki pengendalian waktu kerja setelah bahan diaduk. Jadi, memasukkan bahan dan pembentukan bahan pembentukan kontur restorasi harus diselesaikan begitu tahap inisiasi selesai. Jadi, proses polimerisasi terus menerus terganggu sampai operator telah menyelesaikan proses pembentukan kontur restorasi.
Untuk mengatasi masalah ini, bahan-bahan yang tidak memerlukan pengadukan mulai dikembangkan. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan sumber sinar untuk mengaktifkan system  inisiator. Dengan mempertimbangkan kekurangan resin  cold curing, adalah  bahwa bahan-bahan dengan pengerasan sinar memiliki  keuntungan dengan memungkinkan  operator menyelesaikan baik pemasukan bahan dan pembentukan kontur restorasi sebelum  pengerasan dimulai.
Alat dan bahan curing:
1.      Alat perebus cuve (panci dan kompor)
2.      Timer
3.      Air
Prosedur kerja curing:
1.      Masukkan kuvet dan air di dalam panci (air yang masih dingin)
2.      Panaskan kuvet hingga air mendidih dan pertahankan selama 15 menit.
3.      Matikan api dan biarkan kuvet dalam panci sampai dingin.
4.      Setelah kuvet dingin, buka dan lepaskan model dari kuvet.
5.      Bersihkan sisa gips yang masih melekat pada gigi tiruan akrilik.

I.       Finishing dan Polishing

1.      Finishing
Finishing merupakan proses atau tahap penyelesaiaan geligi tiruan dari menyempurnakan bentuk akhir geligi tiruan dengan membuang sisa-sisa resin akrilik di sekitar gigi. Tonjolan tonjolan akrilik pada permukaan landasan geligi tiruan akibat dari processing.
Waktu proses penyelesaian berhati-hatilah melindungi batas dan kontur geligi tiruan . jika cetakan telah diboxing dengan baik dan geligi malam/ trial denture telah diwaxing dengan baik, garis luar geligi tiruan dengan mudah dapat ditentukan. Selain itu, jika geligi tiruan malam telah di wax contouring dengan seksama sesuai dengan bentuk yang diinginkan, proses penyelesaian yang diperlukan akan lebih sederhana.
Flash adalah resin akrilik yang menonjol keluar atara kedua mould karena tekanan yang dilakukan selama prosedur processing . buanglah flash dari geligi tiruan de ngan menekan sedikit batas geligi tiruan pada arbon band yang berputar perlahan lahan. Jika geligi tiruan ditrial packing dengan hati hati ,aka flash hamya sedikit sekali. Berhati-hatilah membuang flash dan sisa stone yang berada disekitar leher gigi dengan sebuah cungkil kecil/pahat yang tajam.
Gelembung air atau bahan asing lainnya yang terjebak dibawah permukaan stone akan membentuk ruang kosong didalam mould. Tekanan yang digunakan waktu prosedur packing dapat menyebabkan resin akrilik patah didalam ruang kosong tersebut dan akan terlihat sebagai gumpalan/nodul diperukaan geligi tiruan yang telah diproses. Periksalah geligi tiruan dengan jari tangan terhadap gelembung resin akrilik dan hati-hati buanglah bila ada dengan stone/bur bulat kecil.

2.      Polishing
Pemolesan geligi tiruan terdiri dari menghaluskan dan mengkilapkan geligi tiruan tanpa mengubah konturnya .
Untuk mengkilapkan resin akrilik, semua guratan dan daerah kasar harus dibuang, sehingga alat-alat abrasive harus digunakan untuk menghasilkan permukaan geligi tiruan ang licin dan mengkilap. Suatu rag wheel khusus dan brush wheel harus difunakan dengan salah satu bahan poles. Roda-roda ini tidak boleh digunakan secara bergantian dengan bahan abrasive yang berbeda. Rag wheel harus dibiarkan lembut dan basah dan digunakan dengan pumice basah untuk mencegah panas yang berlebihan dari landasan geligi tiruan.
Gunakan rag wheel (putih) dan pumice halus untuk memoles tepi permukaan lingual dan palatal geligi tiruan. Karena rag wheel dapat merusak kontur asli dan stain pada permukaan fasial, maka tidak boleh menyentuh permukaan fasial geligi tiruan.
Hilangkan semua kekasaran dari permukaan fasial yang distain dengan brush wheel putih dan bubuk pumice halus yang basah. Pada permukaan fasial digunakan tekanan seringan mungkin dan putaran roda serendah mungkin.
Permukaan landasan geligi tiruan yang berhadapan dengan jaringan tidak boleh dipoles.
Bila gigi-giginya dari akrilik, maka pada waktu pemolesan gigi-gigi akrilik tersebut harus dilindungi dengan menutupi gigi-gigi akrilik tersebut dengan tape, sehingga anatomi gigi tidak akan rusak.

2 komentar:

  1. bagaimana cara merestorasi klamer yang patah pada GTSL

    BalasHapus
  2. dengan keterbatasan bahan Polishing (Pumice) apa yang dapat kita pergunakan sebagai pengganti Pumice sebagai bahan polishing ,Thanks

    BalasHapus